Jodoh itu istimewa. Allah lebih mengetahui dimana hati harus berlabuh untuk menghabiskan kehidupan.
Berbicara sedikit tentang diri sendiri agar lebih mudah untuk ditulis. Dimulai dari keinginan dan kepercayaan bahwa "jodoh memang sudah diatur tinggal tunggu waktu yang tepat untuk datang bertamu".
Sudah tidak asing jika aku tulis tentang "pacaran", mungkin disaat itu masing-masing bersugesti bahwa ia jodohku. Tapi Allah punya rencana lain "Allah selamatkan masing-masing dari orang yang kurang tepat". Ada yang kenalan lama dan Alhamdulillah berjodoh dalam ikatan pernikahan, ada yang kenal lama tapi terpisah, bahkan ada yang kenal sebentar langsung nikah. Ada yang berjodoh dengan teman sendiri, musuh saat sekolah, kakak kelas, adik kelas, tetangga. Kalau ditulis jodoh itu memang luar biasa.
Aku adalah orang yang merasakan bahwa jodoh itu istimewa dan luar biasa. Melalang buana memberikan hati bahkan pernah berhenti cukup lama untuk menunggu saat yang tepat.
Mungkin sebagian ada yang merasakan ketika pergi ke resepsi pernikahan teman ditanya "kapan nikah?" (Faktanya masih sendiri) dan aku selalu menjawab "in sya Allah secepatnya" itu jawaban Pamungkasku setiap kali ditanya. Padahal bathin bertanya sendiri "dengan siapa? Semoga dijodohkan dengan yang terbaik pilihan-Nya".
Ada kebahagiaan yang aku rasakan ketika aku berhentikan hati cukup lama untuk mencintai lawan jenis, bukan karena tidak laku (hahaha) tapi karena aku percaya jika aku memilih lagi, aku harap ini yang terakhir.
Hari-hari ketika sendiri itu indah, aku tidak memikirkan hati yang harus dijaga, terkadang dapat pasangan yang suka ngatur, dan tingkah lainnya. Aku hidup bebas, aku biarkan hati ini memilih siapa yang membuatnya nyaman, pekerjaan (anak-anak les) yang membuat waktuku lebih menyenangkan, berkumpul dengan teman-teman, jalan-jalan, itu kebahagiaan lain dan sama sekali aku tidak memikirkan lawan jenis.
Aku hanya belajar menjadi yang terbaik (meskipun belum baik). Aku hanya teringat dengan beberapa perkataan ustadz di televisi yang mengatakan kurang lebih "jika meminta (berdoa) kepada Allah jangan memaksa harus gini harus gitu, tapi mintalah yang terbaik menurut-Nya". Jika berdoa perihal jodoh aku hanya meminta seseorang yang terbaik untukku atas pilihan-Nya dan jadikan aku yang terbaik untuknya atas pilihan-Mu. Allah memang maha mendengar bahkan mengabulkan, bukan soal lamanya waktu tapi pada waktu yang tepat.
Tahun 2016 akhir adalah tahun dikabulkannya satu persatu doaku yang sekian lama. Memilih yang terakhir. Allah pertemukan, tak butuh waktu lama. Aku diberi kemudahan untuk mengenalnya, diringankan hati untuk berprasangka dan Jalan dimudahkan. Rencana Allah yang datang dari-Nya adalah yang terbaik dan Allah pula yang memudahkan semuanya. Bagaimana pun kita berbuat dosa, Allah senantiasa menyayangi umat-Nya. Tak butuh waktu lama, hanya beberapa bulan, akhirnya kami dipersatukan pada Agustus 2017.
Jodoh itu istimewa dan unik. Ternyata rahasia yang selama ini terpendam adalah aku berjodoh dengan "kakak kelas SMA yang satu kampung" hanya saja Allah mempertemukan kami di tempat kerja. Rahasia untukku ternyata orang dekat. Kurang dari setahun perkenalan kami. Sekarang dia adalah suamiku (Hendra Setiadi), dia tidak sempurna. Dia kerja keras untuk hidup bukan laki-laki yang menghabiskan waktunya untuk bersantai dengan teman-temannya.
Aku mencintainya karena usahanya. Tak luput dari pandanganku, keringat ketika ia pulang dari kebun, masuk rumah masih bisa tersenyum. Itu lah dia.
Aku mencintainya karena baktinya kepada kedua orang tua, yang diharapkan bisa menyayangi ibuku seperti ibunya sendiri.
Aku mencintainya karena cara dia menjadi pendengar dan pembicara. Laki-laki yang mau menerima argumenku, yang mau berargumen ketika dirasanya pendapatku kurang tepat.
Aku mencintainya karena rasa tanggung jawabnya.
Suamiku bukan orang yang romantis, yang ngerti harus ngasih bunga (apalagi bunga bank), ngasih coklat, ngasih puisi, ngasih sajak, dll. Kalau tidak diminta. Pokoknya bukan yang diharapkan banyak wanita. Tapi semenjak dengan dia, aku paham ada sisi yang lebih romantis, yang dia miliki. Setiap waktunya dia mengingatkan wudhu dulu, 2 sajadah sudah dibentangkannya. Dia imam dan aku makmum. Dengan fasih dibacakannya ayat-ayat Al-Qur'an. Diakhirinya dengan doa. Dibatalkan wudhunya dengan menyalamiku dan mencium keningku. Untuk pertama kali waktu itu aku terharu seraya mengucapkan beribu-ribu rasa syukur kepada Allah memberikan yang lebih dari yang kudoakan.
Kukatakan lagi, dia tidak sempurna terkadang ada rasa jengkel dihati karena ulahnya. Tapi dia laki-laki cerdik yang bisa mensiasati moodku.
Kutuliskan ini bukan karena aku bangga pada suamiku yang umur pernikahan baru seperti tunas, baru mau tumbuh. Tapi aku hanya menyinggung sedikit tentang jodoh. Jodoh yang dipaksakan dan jodoh yang memang dari Allah. Bukan sok-sokan. Tapi aku menulis berdasarkan pengalaman. Jika memang Allah yang menjodohkan semua akan dilancarkan. Kemudahan pasti dirasakan seperti halnya kami. Jika bukan sekarang, tunggulah sebentar sambil menjadi pribadi yang lebih baik. Karena bukan tentang doa yang dikabulkan cepat atau lambat tapi doa yang dikabulkan ketika sudah waktunya. Siapa sangka tahun 2016 pertengahan ketika nikah teman saya prety, ada yang nanya kapan nikah? Saya jawab secepatnya. Dan Alhamdulillah 2017 waktunya Allah memberikan saya jodoh.
Sekarang Allah sudah memberikanku jodoh.
Semoga bisa kami jaga sehingga menjadi sakinah. Aamiin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar