Aku
memberanikan menulis dengan tulisan tegak tentang fakta kawan yang aku temui
dijalanan Pekanbaru. Kisah ini aku jadikan pelajaran sebagai individu dan
makhluk sosial yang tidak terlepas dari interaksi manusia didalamnya.
Tulisan
panjang akan ku mulai….
Kuliah
baru berjalan selama 1 semester itu artinya aku baru 6 bulan tinggal di kota
Pekanbaru. Kota yang dipercayai oleh kedua orang tua ku untuk menjadikan aku
seorang Sarjana Pendidikan. Selama 6 bulan berlalu banyak hal yang aku alami,
setidaknya yang dapat memberikan hikmah dan pelajaran dasar tentang hidup.
Sebut saja dulu ketika aku masih tinggal bersama kedua orang tua aku tergolong
anak manja. Eh tunggu dulu … manja dan pemalas menurutku tidak jauh berbeda.
Sebut saja aku memang manja agar terlihat lebih manis, aku tidak pernah masak,
aku juga jarang sekali nyuci baju, setrika pakaian, bahkan mencuci piring.
Semua ibu yang mengerjakannya. Semenjak jauh dari ibu aku baru merasakannya,
belajar mandiri pelan-pelan, yah pelan-pelan. Berat sungguh berat. Pertama-tama
kuliah ibu sering kali bertanya : dah makan kak? Lauk apa? Dan nyuci baju?
Nyetrika? Atau laundry?? Yah ibu ku selalu aku tenangkan iya udah tak papelah
mak (melayu)…
Sebenarnya
bukan point diatas yang ingin aku angkat disini, aku akan mengangkat cerita
tentang teman. Cerita ini bukan aku yang mengalaminya tapi aku menjadi pengamat
atas apa yang aku lihat dan aku amati atas bukti yang ada.
Sebelumnya
aku binggung tentang persahabatan di kota ini. Aku juga binggung mau memulai
dengan gagasan pokok atau kalimat utama seperti apa. Mungkin mempunyai lima
sahabat bahkan satu sahabat sekalipun tidak menjadi masalah jika memang
sama-sama mengerti dan sama-sama menjaga. Aku berteman seperti biasa, saling
sapa, jika ada yang minta pendapat aku kasi saran seadannya yang aku mampu,
jika ada yang curhat yah aku dengarkan walaupun aku hanya bisa mengatakan
“SABAR”.
Suatu hari
aku bertemu dengan sebut saja Bunga, pertemuan ini bermula ketika ada teman
yang mengenalkannya. Hal pertama yang aku lihat dan aku nilai tentang bunga yaah
anak yang baik dan sedikit cuek, tapi penilaian aku tentang bunga salah. Bunga
termasuk pribadi yang lembut, yang manja dan yang care dengan teman-temannya. Semakin
hari Bunga semakin akrab denganku. Sangking akrabnya ia sering kali bermain dan
cerita-cerita. Hal yang tak di inginkan terjadi. Keakraban aku dan Bunga
ternyata tidak disukai oleh beberapa pihak. Pernah suatu hari aku dikirim
message lewat facebook. Aku baru baca pesan yang ditulis setelah dua hari ia
kirim, sebut saja yang mengirim pesan itu Citra. Isi pesan yang ditulis tidak
perlu aku publikasikan disini. Citra dan Bunga teman dekat, pergi dan pulang
ngampus sama-sama bahkan pacaran juga ada salah satu dari mereka yang ngekor. Aku
tidak tau apa motiv Citra mengirimkan aku pesan sedemikian rupa. Yang inti dari
pesannya itu menjelek-jelekkan teman dekatnya sendiri (Bunga). “Wahh udah ga
waras nih orang” Pikirku dalam hati. Bisa
kalian bayangkan teman dekat sedekat-dekatnya tega menjelek-jelekkan temannya
didepan orang ain? Bagaimana dengan orang yang jauh??? Dan ujung-ujungnya citra
meminta no hape ku agar bisa dihubungi.
Semenjak
aku memberikan no hapeku dengan citra ia sering berkomunikasi dengan ku. Komunikasi
yang tidak jauh-jauh membahas tentang Bunga. Di satu sisi bunga juga sering
cerita denganku. Disini aku bukan hanya mendengar satu cerita tapi dua cerita
sekalipun. Aku tidak pernah cerita dengan Bunga kalau temannya Citra sering SMS
aku. Singkat cerita semua sms yang dikirim Citra tentang keburukan Bunga tapi
berbeda dengan Bunga semua cerita yang ia ceritakan tentang kebaikan Citra. Pernah
suatu hari aku membaca isi pesan Citra dengan Bunga kalau citra merasa Bunga
berubah semenjak kenal dengan aku, dia rindu dengan Bunga yang dulu dan meminta
bunga menjauhi aku. Pemikiranku kembali berputar ternyata nih anak (citra)
bukan manusia yang baik.
Aku hanya
diam, tapi sekian lama aku lihat si Citra bukan teman yang baik buat Bunga. Meskipun
Bunga dan Citra masih seakrab dulu. si Bunga yang setia jadi supir Citra. entah karena bunga yang baik atau Bunga yang Bodoh sehingga bisa dibodoh-bodohkan manusia seperti Citra. Aku mulai
merasa kasihan terhadap bunga dan kembali berpikir “MASIH ADA MUSUH DALAM SELIMUT” di dunia ini lebih tepatnya di
DEPAN MATA SAYA. Semakin lama aku kasihan melihat Bunga dan aku pun
memberanikan diri cerita yang sebenarnya dengan Bunga. Aku tau tindakan ku ini
bukan tindakan yang baik tapi hanya ingin memperjelas malaikat apa yang dia
lihat dimata Citra sesungguhnya Iblis yang menjelma.
KAGET!!!
Jelas terlihat di mata Bunga antara percaya dengan tidak, karna Bunga baru
mengenali aku sedangkan Citra sudah menjadi teman bahkan sahabat lamanya. Salah
satu yang bisa aku buktikan ke Bunga yaitu SMS Citra di facebook. Sungguh terlihat
raut kecewa dimata bunga dan mulai rasa bersalah di bathinku muncul. Kenapa aku
ceritakan ini …
Setelah lama
membisu akhirnya Bunga cerita,” jahat yah citra padahal didepan aku malahan
kamu yang dijelekin dia, hape Samsung dikiranya aku yang beli, aku bawa mobil
dikiranya kamu yang nyuruh”. Astagfirullah… kembali aku berfikir “apa maksud
Citra” apa????
Yang aku
tau dari semuanya “DIA BUKAN MANUSIA BAIK” teman dekatnya saja yang seperti
SUPIR bisa diburuk-burukkan di depan orang lain apalagi AKU!!! Semenjak kejadian
ini aku memandang Citra hanya dengan sebelah mata …sebaik dan selembut apapun
dia tetap saja BURUK.
Dari pengalaman
ini aku bisa menarik kesimpulan bahwa ketidakinginan Citra kalau bunga punya
teman lain selain Dia dan semua cara dilakukan untuk menjauhkan Bunga dari
orang lain Termasuk menjelek-jelekkan teman dekatnya…
ASTAGFIRULLAH….
*jangan sampai kita demikian* END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar