Rabu, 05 Desember 2012

KAWANMU terkadang jadi LAWAN




Aku memberanikan menulis dengan tulisan tegak tentang fakta kawan yang aku temui dijalanan Pekanbaru. Kisah ini aku jadikan pelajaran sebagai individu dan makhluk sosial yang tidak terlepas dari interaksi manusia didalamnya.
Tulisan panjang akan ku mulai….
Kuliah baru berjalan selama 1 semester itu artinya aku baru 6 bulan tinggal di kota Pekanbaru. Kota yang dipercayai oleh kedua orang tua ku untuk menjadikan aku seorang Sarjana Pendidikan. Selama 6 bulan berlalu banyak hal yang aku alami, setidaknya yang dapat memberikan hikmah dan pelajaran dasar tentang hidup. Sebut saja dulu ketika aku masih tinggal bersama kedua orang tua aku tergolong anak manja. Eh tunggu dulu … manja dan pemalas menurutku tidak jauh berbeda. Sebut saja aku memang manja agar terlihat lebih manis, aku tidak pernah masak, aku juga jarang sekali nyuci baju, setrika pakaian, bahkan mencuci piring. Semua ibu yang mengerjakannya. Semenjak jauh dari ibu aku baru merasakannya, belajar mandiri pelan-pelan, yah pelan-pelan. Berat sungguh berat. Pertama-tama kuliah ibu sering kali bertanya : dah makan kak? Lauk apa? Dan nyuci baju? Nyetrika? Atau laundry?? Yah ibu ku selalu aku tenangkan iya udah tak papelah mak (melayu)…
Sebenarnya bukan point diatas yang ingin aku angkat disini, aku akan mengangkat cerita tentang teman. Cerita ini bukan aku yang mengalaminya tapi aku menjadi pengamat atas apa yang aku lihat dan aku amati atas bukti yang ada.
Sebelumnya aku binggung tentang persahabatan di kota ini. Aku juga binggung mau memulai dengan gagasan pokok atau kalimat utama seperti apa. Mungkin mempunyai lima sahabat bahkan satu sahabat sekalipun tidak menjadi masalah jika memang sama-sama mengerti dan sama-sama menjaga. Aku berteman seperti biasa, saling sapa, jika ada yang minta pendapat aku kasi saran seadannya yang aku mampu, jika ada yang curhat yah aku dengarkan walaupun aku hanya bisa mengatakan “SABAR”.
Suatu hari aku bertemu dengan sebut saja Bunga, pertemuan ini bermula ketika ada teman yang mengenalkannya. Hal pertama yang aku lihat dan aku nilai tentang bunga yaah anak yang baik dan sedikit cuek, tapi penilaian aku tentang bunga salah. Bunga termasuk pribadi yang lembut, yang manja dan yang care dengan teman-temannya. Semakin hari Bunga semakin akrab denganku. Sangking akrabnya ia sering kali bermain dan cerita-cerita. Hal yang tak di inginkan terjadi. Keakraban aku dan Bunga ternyata tidak disukai oleh beberapa pihak. Pernah suatu hari aku dikirim message lewat facebook. Aku baru baca pesan yang ditulis setelah dua hari ia kirim, sebut saja yang mengirim pesan itu Citra. Isi pesan yang ditulis tidak perlu aku publikasikan disini. Citra dan Bunga teman dekat, pergi dan pulang ngampus sama-sama bahkan pacaran juga ada salah satu dari mereka yang ngekor. Aku tidak tau apa motiv Citra mengirimkan aku pesan sedemikian rupa. Yang inti dari pesannya itu menjelek-jelekkan teman dekatnya sendiri (Bunga). “Wahh udah ga waras nih orang” Pikirku dalam hati.  Bisa kalian bayangkan teman dekat sedekat-dekatnya tega menjelek-jelekkan temannya didepan orang ain? Bagaimana dengan orang yang jauh??? Dan ujung-ujungnya citra meminta no hape ku agar bisa dihubungi.
Semenjak aku memberikan no hapeku dengan citra ia sering berkomunikasi dengan ku. Komunikasi yang tidak jauh-jauh membahas tentang Bunga. Di satu sisi bunga juga sering cerita denganku. Disini aku bukan hanya mendengar satu cerita tapi dua cerita sekalipun. Aku tidak pernah cerita dengan Bunga kalau temannya Citra sering SMS aku. Singkat cerita semua sms yang dikirim Citra tentang keburukan Bunga tapi berbeda dengan Bunga semua cerita yang ia ceritakan tentang kebaikan Citra. Pernah suatu hari aku membaca isi pesan Citra dengan Bunga kalau citra merasa Bunga berubah semenjak kenal dengan aku, dia rindu dengan Bunga yang dulu dan meminta bunga menjauhi aku. Pemikiranku kembali berputar ternyata nih anak (citra) bukan manusia yang baik.
Aku hanya diam, tapi sekian lama aku lihat si Citra bukan teman yang baik buat Bunga. Meskipun Bunga dan Citra masih seakrab dulu. si Bunga yang setia jadi supir Citra. entah karena bunga yang baik atau Bunga yang Bodoh sehingga bisa dibodoh-bodohkan manusia seperti Citra. Aku mulai merasa kasihan terhadap bunga dan kembali berpikir “MASIH ADA MUSUH  DALAM SELIMUT” di dunia ini lebih tepatnya di DEPAN MATA SAYA. Semakin lama aku kasihan melihat Bunga dan aku pun memberanikan diri cerita yang sebenarnya dengan Bunga. Aku tau tindakan ku ini bukan tindakan yang baik tapi hanya ingin memperjelas malaikat apa yang dia lihat dimata Citra sesungguhnya Iblis yang menjelma.
KAGET!!! Jelas terlihat di mata Bunga antara percaya dengan tidak, karna Bunga baru mengenali aku sedangkan Citra sudah menjadi teman bahkan sahabat lamanya. Salah satu yang bisa aku buktikan ke Bunga yaitu SMS Citra di facebook. Sungguh terlihat raut kecewa dimata bunga dan mulai rasa bersalah di bathinku muncul. Kenapa aku ceritakan ini …
Setelah lama membisu akhirnya Bunga cerita,” jahat yah citra padahal didepan aku malahan kamu yang dijelekin dia, hape Samsung dikiranya aku yang beli, aku bawa mobil dikiranya kamu yang nyuruh”. Astagfirullah… kembali aku berfikir “apa maksud Citra” apa????
Yang aku tau dari semuanya “DIA BUKAN MANUSIA BAIK” teman dekatnya saja yang seperti SUPIR bisa diburuk-burukkan di depan orang lain apalagi AKU!!! Semenjak kejadian ini aku memandang Citra hanya dengan sebelah mata …sebaik dan selembut apapun dia tetap saja BURUK.
Dari pengalaman ini aku bisa menarik kesimpulan bahwa ketidakinginan Citra kalau bunga punya teman lain selain Dia dan semua cara dilakukan untuk menjauhkan Bunga dari orang lain Termasuk menjelek-jelekkan teman dekatnya…
ASTAGFIRULLAH…. *jangan sampai kita demikian* END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar