Jumat, 08 September 2017

A Y A H

"Ayah adalah pria pertama yang mencintai dan menyayangiku dengan tulus (Dessy Anjana)"

Ayah....
Rasa terima kasih kuucapkan pada Allah, karna mengirimkanku kepadamu untuk engkau jaga dan besarkan dengan penuh kasih sayang serta rasa tanggung jawab. 
Selama 24tahun engkau membesarkanku menjadi orang yang engkau harapkan "bisa berguna".

Terima kasih ayah...
hanya itu kalimat sederhana yang bisa aku ucapkan padamu.

Ayah...
Apa kabarmu di sana?
Allah memanggilmu begitu cepat dari yang aku bayangkan.
Hangat dirimu masih  dirasakan di rumah kita.

Ternyata aku begitu merindukanmu, ayah...
Aku masih merasakan engkau disini, tapi hati ini masih sangat perih ketika ingat engkau telah dipanggil pemilikmu.

Ayah...
Bagaimana rumahmu disana?
Semoga lebih baik dari yang disini.

Ayah...
Rumah yang engkau bangun di sini, yang katamu "ini rumah anak-anakku" sudah kami cat menjadi lebih cerah. Jika engkau masih ada, aku rasa ayah pasti akan protes. Karena selera kita tidak pernah sama. Terima kasih ayah diujung usiamu engkau masih memikirkan tempat tinggal keluargamu.

Ayah...
Banyak yang ingin aku tuliskan.
Sekarang engkau sudah punya menantu.
Laki-laki yang pernah beberapa kali engkau temui ketika ia berkunjung ke rumah kita. Dia berani menikahi putrimu yang engkau jaga selama ini. Aku tau engkau merestui kami, karena ayah tidak pernah komentar ketika melihat ia pertama kali (jangan-jangan ayah diam-diam mencari informasi). Dia laki-laki yang bertanggung jawab, aku percaya jikalau ayah masih ada, ayah pasti merasa bahwa putrimu dijaga oleh laki-laki yang tepat. 

Ayah...
Jika semua berjalan lancar, sebentar lagi juga engkau akan mendapatkan cucu.
Seandainya engkau masih ada di sini, mungkin sedikit lucu ketika aku dengar ayahku dipanggil "atok". Ayah pasti menyayanginya. Cucu pertamamu. Tapi apa mau dikata, Allah lebih menyayangimu untuk hidup di dunia-Nya.

Ayah...
Dua anak bujangmu kian membesar. Seandainya matamu masih bisa memandang kami. Ah... Terasa perih ketika membayangkan "perandaian" yang tak nyata ini.

Ayah...
Rindu ini terlalu kejam. Sekeras apapun aku menangis, kamu tetap tak dapat kupeluk.

Ayah...
Apapun kebaikan dan keburukanmi di dunia ini, sebagai anak selalu kudoakan yang terbaik untukmu. Biarlah apapun kata manusia di dunia, mereka punya mulut untuk bicara apapun, tapi sayangnya mereka lupa bahwa yang lain juga mempunyai mulut yang sama. Dan Allah tidak tidur untuk itu.

Ayah...
Maafkan anakmu untuk dosa kami, yang telah engkau pikul sebagai tanggung jawabmu. Maaf ayah....

Ayah...
Aku berikan dedikasi penuh terima kasih untuk semua aturan yang dulunya bagiku tidak masuk akal, yang selalu membuatku merasa terkekang, yang tidak membebaskanku sebebas temanku, yang mengajarkanku kedisiplinan. Terima kasih ayah

Cinta, kasih dan sayangku untukmu pria pertama yang menjagaku. ❤💙






Tidak ada komentar:

Posting Komentar